Unsur-unsur kebudayaan adalah rincian suatu kebudayaan agar dapat kebudayaan yang khusus. Ada tujuh unsur kebudayaan yang merupakan isi pokok dari setiap kebudayaan yang bersifat universal, yang artinya ada dalam setiap kebudayaan di dunia. Ketujuh unsur kebudayaan universal iu maing-masing mempunyai wujud fisik, walaupun tidak ada satu wujud fisik untuk keseluruhan dari satu unsur kebudayaan universal. Tiap unsur kebudayaan universal dapat dipeinci ke dalam unsur-unsurnya yang lebih kecil sampai beberapa kali.
Antropologi: Unsur-Unsur Kebudayaan
Ditulis dalam Komentar EWA
Antropologi: Inovasi
Inovasi yang merupakan proses pembaruan dari penggunaan sumber-sumber alam, energi, dan modal. Dengan demikian inovasi itu mengenai pembaruan kebudayaan yang khusus mengenai unsur teknologi dan ekonomi.
Proses inovasi berkaitan erat dengan penemuan baru dalam teknologi. Biasanya merupakan proses sosial yang panjang dan melalui tahapan khusus, yakni discovery dan invention.
Discovery merupakan penciptaan alat-alat baru yang lebih canggih dari alat-alat yang pernah dibuat sebelumnya, sedangkan invention merupakan pengakuan akan penemuan baru tersebut, apabila tidak ada pengakuan, maka tidak akan ada penemuan baru.
Tentu dalam hal tentang penemuan itu ada faktor pendorongnya, anatara lain: (1) kesadaran para individu akan kekurangan dalam kebudayaan; (2) mutu dari keahlian dalam suatu kebudayaan; (3) sistem perangsang bagi aktivitas mencipta dalam masyarakat.
Inovasi juga bisa disejajarkan dengan evolusi, artinya penemuan baru biasanya berupa suatu rangkaian panjang, dimulai dari penemuan-penemuan kecil secara akumulatif atau secara bertimbun menjadi banyak, yang diciptakan oleh sederet pencipta-pencipta. Bedanya ialah dalam proses inovasi individu-individu itu bersifat aktif, sedang dalam proses evolusi individu-individu itu bersifat pasif, bahkan sering bersifat negatif.
Ditulis dalam Komentar EWA
Antropologi: Asimilasi ‘Bergurulah’ Ke Indonesia
Asimilasi yang merupakan kejadian berubahnya suatu kebudayaan karena adanya kontak dengan kebudayaan lain menjadi kebudayaan campuran. Tidak mudah memang agar proses asimilasi ini bisa berjalan dengan lancar, dibutuhkan sikap toleran di antara masing-masing pendukung kebudayaan, baik yang mayoritas maupun yang minoritas. Tapi memang sulit agar terjadi toleransi, karena kadang suatu kelompok mengklaim bahwa kebudayaannyalah yang paling baik, hingga menyebabkan perpecahan dan ketidakharmonisan antarkelompok masyarakat yang berbeda-beda yang tinggal dalam satu tempat atau wilayah tersebut. Contohnya seperi yang tersebut dalam tulisan Anda di atas, orang Eropa atau Barat merasa sebagai orang yang pailng beradab sehingga orang-orang seperti Indian dan Aborigin mereka pinggirkan, agar tidak merusak kebudayaan mereka.
Jadi sebenarnya sikap toleransi untuk bergaul dengan orang yang berbeda-beda kebudayaan itu tidak mengapa, kita tidak usah takut kehilangan identitas kebudayaan kita sendiri, tentu kita harus terlebih dahulu mengenal kebudayaan kita, jadi bila terjadi proses akulturasi, kita dapat memfilter diri kita.
Ditulis dalam Komentar EWA
Antropologi: Akulturasi
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Akulturasi, perpaduan antara unsur-unsur kebudayaan asli dengan unsur-unsur kebudayaan asing yang datang kemudian. Kedatangan unsur-unsur kebudayaan asing ini tidak semua disambut baik oleh orang-orang yang didatangi. Ada masyarakat yang menolak, biasa disebut masyarakat atau orang-orang “kolot”, dan ada juga yang menerima, tapi tidak menerima semua, tetap dipilah-pilah mana yang baik dan mana yang tidak baik dan mana yang sesuai dengan keadaan setempat dan mana yang tidak sesuai.
Bentuk kebudayaan asing yang datang juga berbeda-beda, tergantung orang yang membawanya atau agent of acculturation-nya. Apabila yang membawa adalah para penyebar agama, maka unsur keudayaan yang masuk berkenaan dengan hal-hal religius. Apabila para pedagang, maka tentang hal-hal yang berkaitan dengan ekonomi.
Akuturasi ini akan tetap berlangsung selama interaksi masih terjadi, tentunya sampai akhir zaman nanti.
Ditulis dalam Komentar EWA
Antropologi: Penyebaran (Unsur-Unsur) Kebudayaan
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Penyebaran unsur-unsur kebudayaan memang tidak terlepas dari penyebaran manusia itu sendiri. Pada masa sekarang ini, dengan keadaan yang tidak begitu sulit manusia berpindah dari daerah satu ke daerah yang lain. Baik langsung ataupun tidak langsung manusia itu ikut membawa kebudayaan daerah dari mana manusia itu berasal. Jadi, sekarang tergantung diri kita masing-masing untuk bisa memfilter diri kita agar tidak langsung menerima semua kebudayaan baru, tapi harus memilih mana yang baik dan meninggalkan mana yang tidak baik.
Ditulis dalam Komentar EWA
Antropologi: Kepribadian, Pengantar Popular
Ya . . . manusia memang adalah makhluk yang paling sempurna yang telah diciptakan oleh Tuhan, sehingga tidak ada satupun makhluk di dunia ini yang lebih mulia daripada manusia. Manusia diberi Tuhan keistimewaan dibandingkan dengan makhluk Tuhan yang lainnya. Di antaranya keistimewaannya adalah bahwa manusia itu diciptakan dengan dibekali akal dan nafsu, sedang malaikat hanya dibekali akal dan binatang hanya dibekali nafsu. Kadang manusia bisa lebih hebat dari malaikat kalau manusia itu bisa mengendalikan akal dan nafsunya dengan seimbang. Tapi kadang manusia bisa lebih buruk dari binatang kalau manusia itu tidak bisa mengendalikan akal dan nafsunya dan lebih cenderung bertindak berdasarkan nafsu. Jadi dengan keistimewaan yang telah diberikan Tuhan yaitu berupa akal maka manusia tentunya memiliki kepibadian.
Kepribadian setiap manusia itu berbeda-beda, tergantung pengetahuan, perasaan, dan naluri yang ada dan tertanam di dirinya. Inilah kenapa manusia disebut makhluk yang unik, yang tidak bisa dinilai lewat pandangan pola-pola sikap, tapi mesti lewat pola-pola tindakan atau tingkah laku.
Ditulis dalam Komentar EWA
Antropologi: Proses Belajar Kebudayaan
Kebudayaan adalah hasil dari pikiran dan aktivitas manusia, jadi manusialah yang menciptakan kebudayaan. Manusia tidak dapat dipengaruhi oleh suatu budaya, karena manusia itu makhluk yag merdeka, yang dapat memasukkan dan menerima segala macam apa-apa yang dilihat dan dirasanya.
Ditulis dalam Komentar EWA
Antropologi: Bangsa Pelaut Bangsa Saudagar
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Pada tulisan Anda yang berjudul “Bangsa Pelaut Bangsa Saudagar” ini, setelah Saya baca dan dalami intinya maka dapat Saya simpulkan bahwa tulisan Anda membahas tentang perkembangan Ilmu Antropologi, yang terbagi dalam 4 fase, fase pertama adalah fase awal perkembangan Ilmu Antropologi, pada masa fase ini istilah antropologi hanya dipakai oleh orang-orang Eropa yang untuk menyebutkan dan membahas tentang keprimitifan orang-orang di luar daerah mereka. Pada fase selanjutnya, yakni fase kedua, ketiga, dan keempat, Antropologi sudah berkembang sangat pesat, bukan lagi hanya membahas tentang keprimitifan orang-orang di luar Eropa, tapi sudah membahas tentang kebudayaan, masyarakat, dan keunikannya.
Ditulis dalam Komentar EWA
Antropologi: Kebudayaan Korupsi
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Dalam pembahasan tentang tulisan Anda yang berjudul “Kebudayaan Korupsi” ini mengetengahkan tentang Tiga Wujud Kebudayaan, yakni:
1. Wujud Ide.
Ide adalah apa-apa yang sudah ada di dalam kepala masing-masing orang dan terekam dengan jelas.
2. Wujud Aktivitas.
Aktivitas adalah dalam hal ini berkaitan dengan segala pekerjaan yang dilakukan berdasarkan ide yang sudah tertanam dalam otak.
3. Wujud Artifact.
Artifact adalah hasil dari aktivitas yang dilakukan oleh seseorang yang berdasarkan ide yang sudah tertanam dalam otaknya.
Berhubungan dengan tulisan Anda bahwa Kebudayaan Korupsi yang begitu mengakar pada bangsa Indonesia ini tidak lepas dari 3 wujud kebudayaan di atas. Sejak kecil kita sudah ditanamkan ide tentang kecurangan, sehingga itu terbawa dalam segala aktivitas yang dilakukan.
Ditulis dalam Komentar EWA
Nomor Satukan Pendidikan
Kebangkitan Nasional adalah semacam pencerahan yang berkembang di Asia terutama di awal abad ke-20 yang menimbulkan tentang nasionalisme.
Kebangkitan di Indonesia terjadi atau dimulai dengan berdirinya organisasi Budi Utomo pada 20 Mei 1908 dan sampai saat ini diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Timbulnya pergerakan atau kebangkitan nasional tidak terlepas dari kebijakan baru yang dibuat pemerintah Belanda dan terkenal dengak Politik Etis atau Utang Budi.
Politik Etis itu pun timbul karena adanya protes atau ketidaksenangan dari orang-orang Belanda sendiri melihat kelakuan pemerintah Hindia Belanda terhadap pribumi yang sangat menyiksa, contoh kerja paksa. Aspirasi itu didengar dan diketahui oleh pemerintah Belanda, sehingga Ratu Wilhelmina memerintahkan pemerinah Hindia Belanda agar balas budi dengan pribumi yang telah memberikan kemakmuran dan kesejahteraan pada negeri Belanda.
Salah satu tuntutan dari politik etis itu adalah akan pentingnya pendidikan, selain emigrasi dan irigasi. Oleh karena itu dibangunlah sekolah-sekolah. Tapi kebanyakan pribumi hanya bisa mengenyam pendidikan rendah, dan sebagian lagi yang bisa sekolah tinggi semacam dr. Soetomo, dr. Wahidin dan yang lainnya juga kecewa karena mendapat perlakuan berbeda dari pemerintah dalam hal pekerjaan. Berawal dari kekecewaan dan keinginan untuk memamajukan pendidikan maka kaum elite penidikan ini mendirikan organisasi untuk memperjuangkan itu. Budi Utomo jadi pelopor organisasi pergerakan nasional, setelah itu bermunculan organisasi-organisasi lain yang memperjuangkan hak bangsa Indonesia.
Kalau kita lihat sejarah, memang pendidikan itu sangat penting, terbukti kaum elite pendidikan lah yang menjadi penggerak dari pergerakan dan kebangkitan nasional. Kita lihat saat ini mutu pendidikan dan sumber daya manusia kita rendah, kita harus sadar bahwa kita harus membenahi itu agar kita bisa maju, karena bangsa yang maju tidak karena bangsa itu kaya sumber daya alam, tapi bangsa yang maju itu adalah bangsa yang kaya akan sumber daya manusia yang berkualitas. Jadi, harapan dalam kebangkitan nasional ini adalah agar bangsa ini serta para aparat yang diserahi amanah unutk mengurus negeri ini agar memperhatikan, meningkatkan dan menomorsatukan pendidikan.
Ditulis dalam Tak Berkategori
« Newer Posts - Tulisan Sebelumnya »