Oleh: hadir4hm4n | 18 Juni 2009

Tugas Final Evaluasi Pembelajaran Sejarah

NAMA : Hadi Rahman

NIM : A1A106024

No.

Pokok Bahasan

No. Soal

Kategori Kognitif

Jumlah

C1 C2 C3 C4 C5 C6

1

2

3

4

5

1

Kerajaan-kerajaan Hindu-Budha

01

02

03

04

05

1

1

1

1

1

3 1 1

5

2

Perkembangan Hindu-Budha di Indonesia

06

07

08

09

10

1

1

1

1

1

1 1 1 1 1

5

Jumlah

10

3 2 1 2 1 1

10

Standar Kompetensi

Mengetahui tentang perkembangan agama Hindu-Budha di Nusantara

Kompetensi dasar

Mendeskripsikan tentang perkembangan agama Hindu-Budha di Nusantara

Indikator

Siswa dapat menyebutkan kerajaan-kerajaan Hindu-Budha di Nusantara

Siswa dapat menjelaskan tentang perkembangan agama Hindu-Budha di Nusantara

Soal

  1. Salah satu upaya yang dilakukan oleh Raja Kertanegara untuk memperluas wilayah kekuasaan tampak dalam peristiwa …..
  1. Paregreg
  2. Perang Ganter
  3. Ekspedisi Pamalayu
  4. Perang Bubad

  1. Perluasan wilayah (ekspansi) yang dilakukan Sriwijaya pada dasarnya bertujuan untuk …..
  1. Memperbanyak daerah jajahan
  2. Menanamkan kekuasaan
  3. Menguasai perdagangan
  4. Menanamkan pengaruh

  1. Upacara korban lembu sebagai upacara penyucian diri untuk masuk dalam kasta Brahmana pada masa Kerajaan Kutai disebut …..
  1. Waprakeswara
  2. Vratyastoma
  3. Baprakeswara
  4. Penghinduan

  1. Dalam sistem pemerintahan Kerajaan Singosari dibentuk penasehat raja yang terdiri dari …..
  1. Rakyan I Hino, Rakyan I Sirikan, Rakyan Mahapatih
  2. Rakyan Mahapatih, Rakyan Demung, Rakyan Kanuruhan
  3. Rakyan I Hino, Rakyan I Halu, Rakyan Kanuruhan
  4. Rakyan I Hino, Rakyan I Sirikan, Rakyan I Halu
  1. Pada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk, urusan keagamaan diserahkan kepada pejabat tinggi yang ahli dalam bidang agama yang disebut …..
  1. Nayaka
  2. Dharmadhyaksa
  3. Bhattata Saptaprabu
  4. Pratyaya

  1. Kerajaan Sriwijaya mengalami keruntuhan disebabkan oleh banyak hal antara lain …..
  1. Serangan dari India
  2. Serangan dari Majapahit
  3. Perang saudara dalam perebutan tahta
  4. Peranannya diambil alih oleh Kerajaan Malaka

  1. Berikut ini menunjukkan perpaduan unsur Hindu-Budha pada masa Kerajaan Mataram …..
  1. Perwujudan patung Dewa Agastya dalam bentuk Lingga
  2. Adanya relief Mahabrata dan Ramayana di Candi Prambanan
  3. Banyaknya dibangun candi-candi Budha
  4. Letak candi Hindu dan Budha

  1. Untuk mengetahui persebaran agama Hindu di Indonesia kita harus menerapkan konsep kronologis …..
  1. Membuat urutan kejadian dalam peristiwa
  2. Menjelaskan peristiwa
  3. Memahami peristiwa
  4. Memaknai peristiwa

  1. Agama budha identik dengan Sidharta Gautama, sedangkan agama Hindu identik dengan …..
  1. Brahmana, Wisnu, Syiwa
  2. Brahmana, Mahayana, Hinayana
  3. Syiwa, Wisnu, Hinayana
  4. Brahmana, Wisnu, Mahayana

  1. Akulturasi seni arca antara budaya India dengan Nusantara terlihat pada pernyataan berikut …..
  1. Arca tidak mementingkan anatomi
  2. Arca sebagai perwujudan nenek moyang
  3. Arca sebagai perwujudan raja
  4. Penampilan arca kaku seperti mayat

Kunci Jawaban

  1. C
  2. C
  3. B
  4. D
  5. B
  6. A
  7. D
  8. A
  9. A
  10. B

Nomor Item

No

Nama

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

Skor Total

Ganjil (X)

Genap (Y)

XY

1

Dinto

1

0

1

0

1

0

1

1

0

1

6

4

2

16

4

8

2

Ahim

1

1

0

1

1

0

1

0

1

1

7

4

3

16

9

12

3

Tullah

1

0

0

0

0

1

1

1

0

1

5

2

3

4

9

6

4

Imis

1

1

1

1

0

1

0

0

1

0

6

3

3

9

9

9

5

Herdy

1

1

0

0

1

0

1

1

0

1

6

3

3

9

9

9

6

Wahyu

0

0

1

1

0

1

1

1

1

0

6

3

3

9

9

9

7

Asir

1

0

1

0

1

0

1

1

0

1

6

4

2

16

4

8

8

Turky

1

1

1

1

0

1

0

0

1

1

7

3

4

9

16

12

9

Adut

1

1

0

0

1

0

1

1

0

0

5

3

2

9

4

6

10

Kane

1

0

1

1

0

1

1

0

1

1

7

4

3

16

9

12

33

28

113

103

91

rXY= NΣXY – (ΣX) (ΣY)

√{NΣX² – (ΣX)²}{NΣY² – (ΣY)²}

= 10.91 – (33) (28)

√{10.113 – (33)²}{10.103 – (28)²}

= 910 – 924

√{1130 – 1089}{1030 – 784}

= – 14

√{41}{246}

= – 14

√10086

= – 14

100,42

= – 0,13

r11= 2 r ½ ½

1+ (r ½ ½)

= 2.- 0,13

1+ (- 0,13)

= – 0,26

1,13

= – 0,29

Oleh: hadir4hm4n | 17 Desember 2008

PKL: Kundan

Akhirnya ,,,,, kata itu yang mula-mula terpikir ketika salah seorang dosen memberitahukan bahwa akan ada PKL. I’m dan teman-teman angkatan 2006 program studi sejarah akan kembali diikutsertakan dalam PKL kali ini. Setelah lebih dari tiga semester tidak pernah “terjun ke medan tempur” akhirnya pada akhir desember ini Kami akan berangkat PKL. Tujuan kali ini adalah ke daerah yang bernama Kundan, masuk wilyah Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Bagaimana ya cerita selanjutnya? nantikan aja lanjutannya.

Ayo siapa mau ikut ,,,,,

Oleh: hadir4hm4n | 17 Desember 2008

Air.

Sudah lebih dari tiga hari kita lihat keadaan malam di sekitaran Unlam penuh dengan genangan air. Air pasang yang menyerang wilayah sekitaran Unlam tersebut memakan korban, banyak orang dan mahasiswa yang tidak bisa tidur karena tempat tinggal mereka ikut terendam. Air mulai pasang sekitar jam 10-an, terus berlangsung sampai sekitar jam 10-an pagi. Kampus Unlam juga sebagian ikut terendam, yang mengakibatkan proses perkuliahan menjadi ga karu-karuan. Kayaknya sekarang kita mesti sadar bahwa keberadaan air (sungai) yang memenuhi hampir seluruh daeran kalsel dan sekitarnya bisa dijadikan pembuka mata kita bahwa kalsel perlu mengembangkan lebih intens lagibagi dunia keairan.

Oleh: hadir4hm4n | 17 Desember 2008

Keok Lagi.

Kemarin malam tanggal 16/12/2008 Timnas Indonesia kembali bertanding melawan Timnas Thailand dalam babak semifinal Piala AFF di stadion Gelora Bung Karno. Sebagai warga Indonesia yang mencintai olahraga, terutama sepakbola, mesti merasa kecewa dengan permainan Timnas Indonesia yang tidak kunjung meningkat performanya, malah semakin turun semenjak kalah dari Timnas Singapura.  Pada pertandingan malam kemarin Timnas Indonesia menyerah 0-1 di kandang sendiri lagi, membuat beban pada pertandingan kedua di Thailand nanti akan semakin berat. Masalah yang sering terlihat pada permainan Timnas Indonesia adalah merasa minder ketika bertemu dengan tim yang kuat, jadi hal itu yang perlu lebih dibina. Masalah mental dan kepercayaan diri. Kita do’akan saja semoga Timnas kita mampu memberikan yang terbaik bagi bangsa ini.

Bravo Olahraga!

Bravo Sepakbola!

Bravo Indonesia!

Oleh: hadir4hm4n | 6 Agustus 2008

History of Dewa

Pada tahun 1986, empat siswa SMPN 6 Surabaya mulai merenda mimpi – mimpi indah menjadi musisi terkenal. Dengan kemampuan pas – pasan mereka mengibarkan bendera DEWA. Nama ini bukan sekedar gagah – gagahan, melainkan akronim dari nama mereka berempat : Dhani Manaf [Keyboard, Vokal], Erwin Prasetya [Bass], Wawan Juniarso [Drum], dan Andra Junaidi [Gitar]. Waktu itu kegilaan mereka pada musik sudah terlihat. Tidak jarang masing – masing terpaksa bolos sekolah, sekedar untuk bisa

ngumpul dan genjrang – genjreng memainkan alat musik. Rumah Wawan di jalan Darmawangsa Dalam Selatan No. 7, yang terletak di salah satu sudut komplek Universitas Airlangga, menjadi markas mereka karena disana terdapat seperangkat alat musik walaupun seadanya namun Dewa bisa berlatih sepuasnya.

Yang membedakan Dewa dengan grup Surabaya lainnya ketika itu adalah warna musik yang mereka mainkan. Kalau grup lain gemar membawakan aliran heavy metal milik Judas Priest atau Iron Maiden, Dewa muncul dengan lagu – lagu milik Toto yang lebih ngepop. Hanya semuanya berubah ketika Erwin yang doyan jazz mulai memperkenalkan musik fudion dari Casiopea. Andra dan Dhani yang semula manteng di jalur rock, akhirnya ikutan juga. Format musik Dewa pun perlahan – lahan bergeser, bahkan mereka bukan

cuma memainkan lagu – lagu Casiopea, tapi juga karya dari musisi jazz beken lainnya seperti Chick Corea atau Uzeb. Dhani, Erwin, dan Andra lantas berangan – angan ingin seperti Krakatau atau Karimata, dua kelompok jazz yang lagi kondang saat itu. Ini membuat Wawan murung, penggemar berat musik rock ini merasa warna Dewa sudah keluar jalur. Akhirnya Wawan memutuskan keluar pada tahun 1988 dan bergabung dengan Outsider yang antara lain beranggotakan Ari Lasso. Setahun kemudian menyeberang ke Pythagoras. Posisi Wawan di Dewa lantas digantikan kakak kelasnya, Salman. Nama Dewa pun berubah menjadi Down Beat, diambil dari nama sebuah majalah jazz terbitan Amerika.

Untuk kawasan Jawa Timur dan sekitarnya, nama Down Beat cukup dikenal terutama setelah berhasil merajai panggung festival. Sebut saja Festival Jazz Remaja se-Jawa Timur, juara I Festival band SLTA ’90 atau juara II Jarum Super Fiesta Musik. Sementara itu Pythagoras pun berhasil jadi finalis Festival Rock Indonesia yang digelar promotor Log Zhelebor. Tapi bagi keempat cowok yang secara psikologis masih dalam pencarian jati diri itu, jazz ternyata juga hanya sebuah persinggahan. Begitu nama Slank

berkibar impian mereka pun berubah. Wawan Juniarso segera dipanggil kembali untuk menghidupkan Dewa dan Ari Lasso ikut bergabung. Nama Dewa kembali tegak, bedanya kali ini pakai embel – embel 19 semata karena rata – rata usia pemainnya 19 tahun. Seperti halnya Slank, Dewa 19 pun mencampuradukkan beragam musik jadi satu : pop, rock, bahkan jazz, sehingga melahirkan alternatif baru bagi khasanah musik Indonesia saat itu. Teman sekelas Wawan, Harun rupanya tertarik oleh konsep tersebut dan segera mengucurkan dana Rp. 10 juta untuk memodali teman – temannya rekaman. Tapi karena di Surabaya tidak ada studio yang memenuhi syarat, mereka terpaksa ke Jakarta padahal jumlah dana tadi jelas pas – pasan. Walhasil mereka harus ngirit habis – habisan, segala hal dikerjakan sendiri termasuk mengangkat barang dan sebagainya. Tapi disini musikalitas mereka teruji.

Album perdana, 19 rampung cuma 25 shift saja. Termasuk luar biasa buat ukuran musisi daerah yang baru saja menginjak rimba ibukota. Dengan master di tangan, Dhani gentayangan dari satu perusahaan rekaman satu ke perusahaan rekaman lain pakai bus kota, sementara Erwin, Wawan, Andra dan Ari menunggu hasilnya di Surabaya. Sempat ditolak sana – sini, master itu akhirnya dilirik oleh Jan Djuhana dari Team Records, yang pernah sukses melejitkan Kla Project.Di luar dugaan, angka penjualan album 19 meledak di

pasaran, setelah melewati angka 300.000 kopi, pihak BASF mengganjar mereka dengan dua penghargaan sekaligus. Masing – masing untuk kategori Pendatang Baru Terbaik dan Album Terlaris 1993. Dalam pembuatan album Format Masa Depan diwarnai oleh hengkangnya Wawan Juniarso karena tidak adanya kecocokan diantaranya.

Setelah itu dalam pembuatan album berikutnya Dewa menggunakan additional music untuk drummernya yang antara lain : Ronald dan Rere. Setelah album Terbaik – Terbaik selesai, masuklah Wong Aksan menempati posisi drummer. Namun setelah menyelesaikan pembuatan album Pandawa Lima, pada tanggal 04 Juni 1998 Wong Aksan dikeluarkan dari Dewa 19, sebab pukulan dram Aksan dinilai mengarah ke musik jazz dan sebagai gantinya masuklah Bimo Sulaksono (mantan anggota Netral)

karena dirasakan bahwa Dewa 19 akan konsentrasi dijalur musik rock, dan membutuhkan seorang drummer dengan tipikal permainan musik rock. Bimo pun akhirnya hengkang dari grup ini dan bergabung dengan Bebi untuk membentuk grup Romeo.

Ditengah masalah pergantian personil ditubuh Dewa, masih ada masalah lain yang lebih berat yaitu dua orang personil Dewa Ari & Erwin mengalami ketergantungan Narkoba. Hal ini menyebabkan Dewa vakum dalam dunia musik Indonesia. Ari Lasso yang sangat sulit dihubungi sempat menyebabkan Album bintang 5 tertunda. Erwin memutuskan untuk masuk rehabilitasi dan pesantren untuk menghilangkan kebiasaan buruknya itu. Akhirnya setelah melewati waktu yang cukup lama Erwin berhasil sembuh

total dan mulai mempersiapkan diri untuk menyelesaikan Album ke 5, meskipun Erwin hanya sebagai Additional player. Tapi masalah tidak berakhir sampai disitu, karena Ari Lasso semakin sulit dihubungi, akhirnya Dewa memutuskan untuk mencari pengganti Vokalis yang ikut membesarkan nama Dewa itu. Akhirnya Dhani bertemu dengan Elfonda”Once”Mekel dan mengajak untuk bergabung. Karena posisi drummer masih kosong, Dewa juga memutuskan untuk mencari pengganti Bimo. Kebetulan Once mempunyai teman seorang Drummer yaitu Tyo Nugros yang akhirnya resmi menjadi Drummer Dewa.

Setelah cukup lama menyiapkan materi untuk album ke lima yang bertajuk “Bintang Lima” pada tahun 2000 album ini berhasil di release. Ternyata dengan pergantian 2 orang personil di tubuh Dewa tersebut membawa angin segar, dengan meledaknya Album Dewa yang kelima tersebut. Erwin kembali resmi menjadi bassit Dewa. Dan diharapkan ini adalah formasi terakhir Dewa. Berhasilnya Album kelima memacu Dewa untuk segera membuat Album selanjutnya, yaitu Album enam yang diberi judul “Cintailah

Cinta”. Album ini dipersiapkan secara matang dan terkonsep, sehingga dalam kurun waktu yang cukup singkat akhirnya album ini bisa di release awal tahun 2002. Ditengah-tengah release album keenam ini banyak masalah yang muncul. Diawali dengan kasus judul lagu “Arjuna Mencari Cinta” yang dipermasalahkan dan akhirnya Dewa memutuskan untuk mengganti judul tersebut menjadi “Arjuna”. Belum selesai masalah judul lagu Dewa kembali harus kehilangan seorang personilnya. Erwin mundur dari Dewa kabarnya dipicu beberapa hal yang konon tidak bisa ditolerir lagi , yang berhubungan dengan masalah Manajemen. Dewa memutuskan untuk mencari pengganti Erwin dan muncul satu nama yaitu Yuke bassist band The Groove. Yuke diajak bergabung sebagai additional player. Dengan diterpa berbagai masalah yang silih berganti tersebut tidak menyurutkan semangat Dewa untuk tetap eksis. Bahkan semakin membesarkan namanya sebagai Band yang paling berkibar di blantika musik Indonesia.

Oleh: hadir4hm4n | 22 Juli 2008

Dewa 19 & Yahudi (III)

Apakah benar Ahmad Dhani keturunan Yahudi?? Mengapa dalam album – album grup musik Dewa 19 banyak simbol aneh?? Apa yang sebenarnya terkandung dalam lirik-lirik lagu Dewa 19?? Sebenarnya saya (penulis) tidak terlalu ambil pusing dengan pertanyaan-pertanyaan di atas, tetapi setelah mencermati buku berjudul “Fakta & Data Yahudi di Indonesia” karangan Ridwan Saidi & Rizki Ridyasmara (Februari 2006) dan buku “Talmud, Kitab Hitam Yahudi Yang menggemparkan“ karangan M.A Syarkawi (cetakan edisi Indonesia, 2005). Saya merasa mempunyai beban moral untuk menyebarluaskan informasi ini kepada public, karena melihat sepertinya hanya kalangan tertentu di Indonesia yang paham tentang bahaya Yahudi.Dengan tulisan ini , saya berharap lebih banyak pihak yang concern.

Sebelum membahas tentang group musik Dewa, saya akan memberikan kutipan yang saya ambil dari buku (Talmud,……) diatas:

PERTAMA
Bangsa Lain Selain Yahudi adalah Bagaikan Binatang Dalam Kitab Talmud Yerusalem halaman 94 disebutkan: “Air mani yang darinya tercipta bangsa-bangsa lain yang
berada diluar agama yahudi adalah air mani kuda” Dalam Midrash Talpioth (Vol 225d) dijelaskan bahwa kaum non Yahudi adalah hanya berbeda bentuk dengan binatang.

Kitab Zohar (I,131a) …sejak adanya mereka, maka dari itu, semua manusia non Yahudi mengotori alam, karena roh mereka lahir dari bagian yang najis. Sanhendrin (74b) Tosepoth berbunyi: Hubungan seksual orang Goim (orang non Yahudi) adalah seperti hubungan seksual binatang.

Talmud, Kitab 6 Bab 8 butir ke 9: Sesungguhnya Talmud mewajibkan atas setiap orang yahudi untuk melaknat orang Kristen tiga kali dalam sehari, dan berdoa agar membasmi
dan menghancurkan raja-raja serta para pemimpin mereka. Juga diwajibkan kepada orang Yahudi untuk merampas harta mereka dengan cara apapun.

Strategi penyebarluasan simbol Yahudi di masyarakat kita ternyata sudah dalam tahap yang memprihatinkan. Simbol Yahudi tanpa sadar telah di gunakan pada aksesories, kaos, cover kaset dll.

Kita sudah mengetahui bahwa sebuah simbol / gambar bisa berarti lebih dari seribu kata-kata. Ternyata, salah satu grup musik papan atas di Indonesia yaitu DEWA telah secara konsisten menyebarkan simbol Yahudi dari mulai album pertama mereka DEWA 19 (1992), TERBAIK–TERBAIK (1995), THE BEST OF DEWA 19 (1999), BINTANG LIMA (2000), CINTAILAH CINTA (2002), ATAS NAMA CINTA I & II ( 2004), dan LASKAR CINTA (2004)

Simbol Yahudi dengan cerdik diletakkan dengan berbagai cara dan hanya bisa dilihat dengan cara cara tertentu. Ada yang dibuat terbalik, disamarkan, diputar dan hanya bisa dibaca didepan cermin.

KEDUA
Bangsa Yahudi mempunyai rencana besar untuk menguasai seluruh umat manusia dimuka bumi, kemudian membuat mereka bertindak secara sadar atau tidak sadar menjadi pelayan Yahudi yang derajatnya dianggap sama dengan binatang.

KETIGA
Banyak strategi yang dilancarkan oleh kaum Yahudi yang berkedok Kemanusiaan, Dialog Lintas Agama, Hak Asasi Manusia, Beasiswa, Penyebarluasan simbol Yahudi dll,
yang semuanya merupakan tak-tik belaka untuk meraih tujuan akhir mereka.

Oleh: hadir4hm4n | 22 Juli 2008

Dewa 19 & Yahudi (II)

Dibawah lagu berjudul “Satu” (album Laskar Cinta), berisi ajaran sesat yang mengatakan ada kesatuan wujud antara Sang Khaliq dengan mahluk-Nya. Dalam bahasa Syekh Siti Jenar atau Al Hallaj, paham ini disebut “Manunggal ing kawulo Gusti”. Parahnya, ini seakan dibenarkan sendiri oleh Ahmad Dhani dengan menulis di bawah lirik lagu tsb dalam cover versi kaset, “THANKS TO: AL-HALLAZ”.

Dalam album yang sama versi CD, di bawah lirik lagu “Satu”, ditulis Ahmad Dhani, “THANKS TO: SYEKH LEMAH ABANG”, yang tak lain adalah nama lain dari Syekh Siti Jenar

Siapakah Ahmad Dhani?

DHANI THANKS TO:… . JAN PIETER FREDERICH KoHLER (THANKS FOR THE GEN). Dhani berterima kasih kepada:… .Jan Pieter Frederich Kohler (Terima kasih atas darah keturunannya)

Merunut dari silsilah keluarga, Jan Pieter Frederich Kohler adalah kakek Dhani (dari pihak Ibu) yang berkebangsaan Jerman. “Kohler” adalah nama keluarga, sejenis marga. Jadi jelaslah, Dhani punya kebanggaan akan darah keturunannya itu,” ujar pengamat Zionisme H. Ridwan Saidi.

Bisa jadi, sebab itulah dalam berbagai kesempatan show-termasuk ketika manggung di Trans TV yang menginjak-injak karpet dengan motif logo Allah yang kontroversial itu, Ahad (10/4)- Dhani Dewa mengenakan kalung Bintang David, simbol Zionis-Israel.

Bermula dari kasus kontroversial logo Allah, terkuaklah misteri dibalik (Dhani) Dewa

Dalam album-album Dewa, bertebaran gambar dan simbol-simbol Yahudi. “Ada apa ini? Dalam album-album selanjutnya Dewa juga banyak memuat logo dan simbol-simbol Zionis. Ini harus dilacak, ada apa di belakang Dewa?” papar Ridwan Saidi.

Saya sebagai orang yang telah lama mempelajari Zionisme berani menyatakan jika ini merupakan usaha penyebaran simbol-simbol Yahudi terbesar sepanjang sejarah Indonesia!” tandas Ridwan.

Oleh: hadir4hm4n | 22 Juli 2008

Dewa 19 & Yahudi (I)

Kasus Dewa telah meninggalkan pertanyaan besar, sejak tanggal 2 Mei lalu seluruh pemberitaan mengenai kelanjutan kasusnya sepertinya masuk keranjang sampah tepatnya sejak budayawan H. Ridwan Saidi melaporkan Dewa ke Kejaksaan Agung sehubungan temuan beliau bahwa album dewa menyesatkan dan memakai lambang-lambang yang dilarang. Padahal masyarakat banyak yang menunggu kelanjutan dari hasil temuan-temuan tersebut. Syukur alhamdulillah, pada edisi Mei 2005, majalah Saksi memuat artikel dan wawancara dengan budayawan H. Ridwan Saidi.

Penjelasan ini tentu saja sangat penting khususnya bagi H. Ridwan Saidi untuk menghindari tuduhan “Fitnah” dari group band Dewa.

Sangat menarik untuk kita telaah bersama, salah satu lagu berjudul “SATU” dalam album “Laskar Cinta” versi CD, di bawah lirik lagu ditulis Ahmad Dhani, “THANKS TO: SYEKH LEMAH ABANG”, sementara untuk versi Kasetnya bertuliskan “THANKS TO: AL-HALLAZ” yang tak lain adalah nama lain dari Syekh Siti Jenar.

Album DEWA 19 (1992)

Di cover depannya ada gambar piramid yang atasnya disamarkan, tapi jika diperbesar akan tampak ada sesuatu di puncaknya. Ini mirip dengan lambang gerakan rahasia Zionisme (Iluminati). Bandingkan dengan gambar piramid Yahudi yang terdapat dalam lembaran One Dollar AS

Album TERBAIK-TERBAIK (1995)

Terpampang simbol Dewa RA (Dewa Matahari Dalam Mitologi Mesir Kuno). Dewa Ra diklaim Yahudi sebagai salah satu dewa mereka. Di Sinagog lambang ini lazim dipajang.

Selain itu, dalam album yang sama ada pula gambar satu halaman Protocol of Zions dalam bahasa Ibrani. Ridwan Saidi (pakar Zionisme) yang menguasai bahasa Ibrani menegaskan, “ini jelas diambil dari satu gambar Protocol of Zions, karena diatas lembaran itu ada judul dan logo. ini tidak ada dalam Taurat ataupun Talmud”. Lalu ada simbol lingkaran dengan titik di tengahnya, dimana personil Dewa berdiri dibawahnya. Simbol ini lazim dikenal sebagai simbol Mata Setan yang menguasai dunia (evil eye), sebuah simbol Yahudi. Di bagian lain dalam album yang sama, simbol mata setan juga dimuat.

Album The Best of Dewa 19 (1999)

Di pinggiran discnya terdapat simbol panah dan garis lurus yang saling memotong seperti salib. Lambang garis tersebut sebenarnya sinar yang saling memotong. Ini salah satu simbol dari gerakan Freemansonry Lambang sinar yang saling memotong ini secara “kreatif” juga terdapat dalam cover kaset bagian dalam dan depan secara keseluruhan.

Album Bintang Lima (2000)

Gambar sayap lazim dipakai sebagai salah satu simbol gerakan perkumpulan Theosofie Yahudi.

Album Cintailah Cinta (2002)

Cover depan album Dewa ini memuat secara mencolok simbol Eye of Horus. Horus adalah Dewa Burung dalam mitologi Mesir Kuno. sama seperti Dewa Ra, Yahudi juga mengklaim Horus merupakan salah satu dewa mereka. Di cover dalam juga terdapat simbol yang sekilas mirip mata, tapi sebenarnya merupakan contekan habis salah satu simbol yang terdapat dalam buku The Secret Language of Symbol yang disarikan dari kitab Yahudi, Taurat. Simbol ini biasa disebut Femina Geni.

Masih dalam album ini, masih terdapat beberapa simbol-simbol mata, yang merupakan salah satu simbol Gerakan Freemasonry

Album Atas Nama Cinta I & II (2004)

Lambang sayap yang merupakan lambang resmi Dewa dimuat dalam album live ini dengan latar belakang hitan kelam.

Album Laskar Cinta (2005)

Ininlah album ketujuh Dewa yang akhirnya menjadi batu sandungan dan membuka selubung semua album-album Dewa sebelumnya yang sarat dengan kampanye simbol & lambang Yahudi.

Selain lambang Allah yang dimuat tidak sebagaimana mestinya, tipologi huruf “Laskar Cinta” pun mengambil dari pola huruf Ibrani

“Pola huruf tulisan Laskar Cinta diambil dari pola huruf Ibrani,” ujar Ridwan Saidi seraya membuka kitab Taurat berbahasa Ibrani asli dari Israel.

Oleh: hadir4hm4n | 5 Juli 2008

UN . . . Oh UN

Polemik UN atau Ujian Nasional yang dijadikan standar kelulusan masih terus ramai diperdebatkan. Dari kalangan sekolah baik guru, siswa, dan juga orangtua siswa tidak terlalu setuju dengan kebijakan pemerintah tersebut. Alasan mereka adalah bahwa pengambilan penilaian pada seorang sisa tidak melulu ditentukan atas tingkat kecerdasan otak saja, tapi juga dari keerdasan emosionalnya. Untuk hal ini pemerintah tidak dapat mengetahui secara pasti bagaimana keadaan siswa di seluruh sekolah se Indonesia, hanya guru yang yang tahu secara pasti. Jadi akhirnya peran sekolah kurang besar dalam mebina lulusan yang diharapkan sesuai dengan amanat UUD.

Sebenarnya pengadaan UN itu sangat bagus untuk meningkatkan mutu pendidikan kita, tapi ada baiknya tidak dijadikan sebagai standar kelulusan, karena keadaan wilayah yang berbeda-beda mempengaruhi akan manusianya, tidak semuanya sama. Tidak bisa menyamakan sekolah-sekolah di Jakarta dengan di Irian Jaya misalnya. Jadi, sebaiknya UN hanya dijadikan alat ukur untuk mengetahui bagaimana tingkat rata-rata potensi siswa. Untuk hal kelulusan biarlah sekolah yang mendapat wewenang, karena mereka tahu persis bagaimana anak didik mereka.

UN menimbulkan dampak berupa stress di kalangan pelajar, terutama bagi yang tidak lulus UN tersebut, karena hasil jerih payah mereka menuntut ilmu selama 3 tahun cuma ditentukan 3 hari. Banyak kita lihat di media-media, baik koran maupun elektronik bagaimana pelajar ada yang sampai bunuh diri karena tidak lulus UN. Jadi untuk mencegah itu semua ada baiknya dilakukan perubahan kebijakan tentang UN sebagai standar kelulusan.

Oleh: hadir4hm4n | 4 Juli 2008

Lihatlah Spanyol dan Turki

Kemeriahan pesta sepakbola EURO 2008 Austria-Swiss telah usai. Telah sama-sama kita ketahui hasilnya menempatkan Tim Matador Spanyol sebagai sang juara mengalahkan Tim Panser Jerman dengan skor 1-0 lewat gol yang dicetak Fernando “el nino” Torres.

Selama perhelatan akbar tersebut, Spanyol memang pantas menjadi juara, karena tampil konsisten selama turnamen berlangsung, mereka tak terkalahkan, hanya Italia yang mampu menyulitkan mereka dan akhirnya pun Italia tak mampu membendung langkah Spanyol, hingga akhirnya Spanyol berjaya.

Kalau kita melihat komposisi pemain Spanyol yang dibawa pelatih Luis Aragones tergolong mini untuk ukuran badan pemain eropa. Rata-rata tinggi badan pemain Spanyol hanya 180 cm. bandingkan dengan Jerman yang rata-rata tinggi badan pemainnya 185 cm. Jadi tidak salah tajuk pertarungan final antara Jerman vs Spanyol sebagai Raksasa melawan Kurcaci. Tapi rupanya tinggi badan tidak menghalangi dan bukan jaminan tim akan kuat dan menang. Itu dibuktikan Spanyol dengan mampu mengalahkan Jerman. Juga Turki yang berhasil melaju sampai semifinal, padahal ukuran pemain Turki juga kalah dibanding ukuran pemain eropa.

Jadi, tinggi badan bukan menjadi penghalang sebuah tim sepakbola untuk berprestasi. Bagi timnas Indonesia bisa mencontoh Spanyol, Turki, dan Korea Selatan yang berhasil dalam turnamen walau mempunyai pemain yang bertubuh rata-rata mini.

So, tetap berjuang dan semangat untuk timnas Indonesia.

Bravo sepakbola nasional!

Bravo Timnas Indonesia!

Older Posts »

Kategori